my profil

my profil

Selasa, 15 Maret 2016

DEJAVU " Ajian Puter Giling"

Ini Film pertama saya sebagai editor film bioskop, dalam proses editing yang cukup horor juga soalnya di saat scene-scene hantu saat editing pada malam hari juga mengerikan alias horor takut sendiri, tidak berani edit sendirian. Nungu siang hari di lanjutkan aneh tapi nyata hehehehe. Banyak belajar dari sutradara Hanny R Saputra yang sangat berpengalaman dalam pengarapan film di Indonesia. 
Myrna - 23 tahun (Ririn Ekawati), Seorang gadis cantik, baru diterima sebagai seorang perawat pribadi. Rumah tempat nya bekerja adalah sebuah rumah tua yang tidak terawat. Ia harus merawat Sofia 25 tahun (Ririn Dwi Aryanti).
Saat pertama kali tiba di rumah itu Myrna diserang Dejavu. Ia merasa pernah berada di tempat itu. Dalam rumah itu Sofia dan suami, Yudo 30 tahun (Dimas Seto) juga bertingkah misterius. la tidak banyak bicara, tatapannya kosong, dan sangat dingin. Seringkali ia muncul tanpa ada suara. Myrna juga sering diganggu oleh penunggu rumah. Saat sedang keluar rumah, Myrna melihat orang pintar menggunakan AJIAN PUTER GILING yang bisa membuat pencuri kembari ke tempatnya. Orang pintar merapal mantra, dan dalam beberapa hari, pencuri kembali ke tempatnya mencuri motor. Myrna tertegun melihat itu.
Suatu ketika Myrna terjebak dalam situasi harus bersama Yudo. Kemudian Yudo berkisah tentang sedihnya karena Sofia sakit. Myrna mulai ada rasa simpati kepada Yudo. Sering berjalannya waktu, tumbuh rasa diantara mereka berdua.
Saat kembali bekerja, Myrna terus diganggu oleh makhluk halus. Ini mendorong Myrna membongkar pecahan-pecahan rahasia di rumah Sofia. Apakah Myrna berhasil memecahkan rahasia dirumah Sofia?

Rabu, 05 Februari 2014

LEHER ANGSA

 Sinopsis
… sebuah desa, satu-satunya fasilitas buang air besar yang sehat di desa itu adalah sebuah WC Leher Angsa milik kepala desa, disana seluruh penduduknya buang air besar di kali. Dan di desa itu ada seorang bocah lelaki cerdas yang gemar membaca. Karena dengan gemar membaca, ia jadi mengerti banyak hal. Ia bernama Aswin.
Aswin memiliki tiga teman karib, satu kelas di sekolah. Johan, Sapar dan Najib. Sapar kurus dan ceking anak orang miskin. Johan penuh percaya diri dan anak seorang seniman biola sangat santun dalam berbicara, sedangkan Najib bertubuh besar dan kuat, dan sangat menyukai olahraga.
Aswin kehilangan ibunya ketika sebuah pesawat latih ringan jatuh menimpa sang ibu yang sedang bekerja di ladang. Mestinya saat itu giliran ayahnya, Pak Tampan yang bekerja di ladang, tapi sang ayah lebih memilih pergi menyabung ayam. Sudah kehendak Tuhan kata sang ayah, tapi Aswin tak menerima dan tak mengerti. Sejak saat itu Aswin jadi tidak suka kepada ayahnya.
Segera Aswin mendapat ibu baru, Aswin menyukai ibu barunya. Dan karenanya merasa kasihan melihat ibu barunya yang tak terbiasa buang air besar di kali. Aswin meminta ayahnya untuk membuatkan ibu barunya sebuah WC leher angsa seperti milik kepala desa. “Nanti ibumu akan terbiasa”, kata ayahnya. Ditambah dengan keinginan memiliki sepeda yang tak pernah dipenuhi ayahnya, Aswin semakin tidak suka pada ayahnya.
Persoalan si miskin Sapar membuat Aswin sedikit melupakan persoalan dengan orang tuanya. Sapar bisulan di bokongnya dan karenanya ia tak masuk sekolah. Persoalan bisul menjadi persoalan penting yang harus dipecahkan agar Sapar bisa masuk sekolah kembali. Bisul akan sembuh kalau sudah pecah. tapi sebelum pecah ia harus matang dulu. Sepertinya bisul di bokong Sapar sudah matang, tapi kok tidak pecah-pecah?
Johan adalah anak yang penuh percaya diri dan selalu mencari kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya bermain biola. Tapi permainan biola Johan menjadi momok yang menakutkan bagi teman-temannya. Karena suara yang dihasilkannya amat mengerikan. Melengking memekakkan dan menyayat genderang telinga.
Tapi Aswin yang cerdas melihat potensi permainan biolanya Johan. Maka Aswin menyuruh Johan memainkan biolanya di hadapan Sapar. Sapar yang bisulan parah ‘menari-nari’ kesakitan karena tidak tahan mendengar lengkingan biolanya Johan dan lalu setelah usai merasa lega dan tak sadar menduduki bisulnya. Bisul itu pecah dan kemudian sembuh.
Aswin merindukan ibunya yang telah tiada, meskipun ada ibu baru yang baik hati. Dan ayahnya, Pak Tampan, terkena kutukan – paling tidak itu pikiran Aswin – tumbuh bisul di bokongnya. Sudah tentu Pak Tampan yang pelit tidak mau berobat ke dokter atau puskesmas. Bisul itu akan sembuh dengan sendirinya, pikirnya. Tapi ternyata tidak.
Tak mau panjang lebar berdebat dengan anaknya, Pak Tampan mengakui saja kesalahannya, dan berjanji akan membuat WC leher angsa di rumah. “Tapi bagaimana dengan bisulku ini?” tanya Pak Tampan.
Pengalaman memecahkan bisulnya Sapar dengan biolanya Johan dipakai Aswin untuk menteraphi bisul ayahnya. Terapi biola memang membuat bisul itu pecah.
Pak Tampan sembuh dan ia menepati janjinya membuatkan WC leher angsa di rumah. Bertahun-tahun kemudian semakin banyak orang di desa itu yang membuat fasilitas buang air besar di rumah. Namun tetap saja masih ada satu dua orang yang tetap buang air besar di kali yaitu mereka yang hanya merasa nyaman buang air besar bila bokongnya terendam air.

DI TIMUR MATAHARI



Sinopsis
Kalau ada anak-anak seumur SD di Papua yang mendongak ke langit menanti sesuatu, jangan pikir mereka adalah sekelompok bocah “udik” yang belum pernah melihat pesawat. Yang mereka tunggu bukan pesawatnya, melainkan seorang guru yang akan turun dari pesawat itu untuk mengajari mereka.
Mazmur (Simson Sikoway), Thomas (Abetnego Yigibalom), Yokim (Razz Manoby), Agnes (Maria Resubun), dan Suryani (Friska Waromi) merupakan anak-anak di Lanny Jaya, Papua, yang hari-harinya selalu menanti sosok guru. Karena pahlawan tanpa tanda jasa itu tak kunjung datang, mereka pun menghabiskan waktu dengan main bola, menyanyi, sampai mencari kerja.
Sayang, keceriaan mereka harus terusik oleh konflik antarsuku yang terjadi. Karena uang palsu yang didapat dari warga kampung sebelah, Blasius, ayah Mazmur, memukul seseorang sampai berdarah. Di tengah jalan, mendadak Blasius dihadang dua orang dengan busur di tangan mereka. Di depan mata Mazmur, mereka memanah Blasius sampai ia meninggal. Konflik memanas. Alex, salah satu adik Blasius, ingin membalas dendam dengan mengobarkan bendera perang.
Sebenarnya, Michael (Michael Jakarimilena/ Mike Idol) sudah mencoba melarang Alex atas nama cinta kasih. Ia juga salah satu adik Blasius, namun sejak kecil tinggal bersama ‘mama Jawa’ di Jakarta untuk sekolah. Mendengar berita duka soal kakaknya, Michael kembali ke tanah Papua bersama istrinya, Vina (Laura Basuki). Baginya, tidak setiap perang harus dilawan dengan perang.
Di belakang Michael, Pendeta Samuel (Lukman Sardi), Bu Dokter (Ririn Ekawati), dan Ucok (Ringgo Agus Rahman) turut mendukung perdamaian itu. Prinsip yang sangat bertolak belakang dengan Alex.
“Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi,” kata Alex tegas.
Menyelamatkan harga diri, bagi Alex, lebih penting dari nyawa sendiri. Yang juga dibalas ketegasan dari seorang dokter, “Jangan pernah suruh saya mengobati orang-orang yang terluka karena perang,” ujar Bu Dokter sebagai bentuk protesnya terhadap perang.
Genderang yang terlanjur ditabuh, tak dapat terelakkan. Korban perang suku berjatuhan. Setelah Blasius, papa Agnes bernama Joseph juga meninggal. Puncaknya, Alex yang juga papa Thomas, turut menjadi korban.
Tak tahan dengan kemelut permasalahan antar orang dewasa yang membelit mereka, anak-anak pun akhirnya bersuara. Meneriakkan keinginan polos mereka di antara dua suku yang tengah berperang, yakni kedamaian.
Dan nyanyian tulus mereka itulah yang mampu meluluhkan senjata orang-orang dewasa yang selama ini teracung tinggi-tinggi untuk saling melawan. Perubahan yang dibawa Mazmur dan kawan-kawan melalui nyanyian serta prinsip kedamaian mereka, membuat orang-orang akhirnya mau bergandengan tangan.
Sekelumit potret kehidupan di Papua itu direkam oleh Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen dalam film Di Timur Matahari. Sebenarnya, Papua hanya satu contoh kecil tentang kejamnya perilaku orang dewasa yang kadang berkonflik tanpa memedulikan anak-anak. Melalui film ini, kita seakan “ditohok” oleh kepolosan anak-anak yang masih murni tanpa tendensi.
Dialog-dialognya terasa wajar dan sangat hidup, terkadang mengusik rasa humanis dalam diri kita. Film Di Timur Matahari bukan hanya menyuguhkan keindahan alam Papua, tapi juga banyak pelajaran kemanusiaan yang bisa diambil dari sana
Sumber :
indonesianfilmcenter.com

HABIBIE & AINUN


Sutradara : Faozan Rizal
Genre : Drama
Produser : Dhamoo Punjabi, Manoj Punjabi
Produksi : MD PICTURES

Sinopsis
Cerita awalnya bermula ketika Habibie dan Ainun masih remaja, mereka berdua bersekolah di tempat yang sama. Pada waktu remaja mereka digoda oleh gurunya kalau berjodoh tetapi Habibie malah menyangkalnya dan mengatakan bahwa Ainun itu hitam, jelek dan gendut seperti gula jawa.
Beberapa tahun pun berlalu dan Habibie melanjutkan pendidikannya di Jerman dan harus terpaksa pulan ke Indonesia karena menderita penyakit Tubercolosis. Tetapi pada saat itulah Habibie dan Ainun dipertemukan kembali melalui kue yang harus diantarkan Habibie ke rumah Ainun.
Pada saat bertemu itulah Ainun berubah menjadi gadis muda dan cantik. Banyak pria yang meliriknya kebanyakan pria yang menaruh hati kepada Ainun adalah orang kaya dan berpangkat, tetapi Habibie yang saat itu sudah mulai mencintai Ainun pun juga tidak minder. Ia dengan santainya datang ke rumah Ainun dengan menggunakan becak sedangkan para pria yang lainnya datang menggunakan mobil yang bagus.
Ainun sendiri tidak silau dengan harta dan pangkat oleh pria yang menyukainya. Dan justru memilih Habibie dan memilih untuk hidup dengannya. Setelah menikah mereka berdua pun terbang ke Jerman dan menyelesaikan studi S3 nya serta berharap untuk kembali ke Indonesia dan membangun negeri dengan membuat sebuah pesawat anak bangsa seperti janji yang dulu pernah diucapkan ketika sakit.
Tetapi kondisi tidak seperti yang diharapkan. Istilah yang paling tepat adalah di negeri orang dipuji tetapi di negeri sendiri malah dicaci. Pada saat itu Habibie memang sangat dihormati di Jerman. Mimpi Habibie untuk membangun Indonesia mengalami hambatan dan dengan terpaksa menerimanya dengan lapang dada dan bekerja di Industri Kereta Api milik Jerman. Disana Ia menemukan penemuan baru di bidang industri kereta api yang fenomenal.
Sampai akhirnya kesempatan datang kepada Habibie untuk bisa mewujudkan mimpinya membangun indonesia melalui maskapai penerbangan. Setelah menjadi wakil dirut IPTN dan selanjutnya diangkat menjadi menteri, wakil presiden dan presiden setelah Soeharto lengser dari jabatan ketika terjadi reformasi pada tahun 1998.
Setiap kesuksesan pasti ada pengorbanan. Kesuksesan Habibie yang ingin mengabdikan diri pada negara, berdampak pada keluarganya. Ia tak lagi sempat menghabiskan waktu dengan keluarganya, bahkan untuk dirinya sendiri pun tidak. Tidur pun hanya 1 jam setiap harinya.
Habibie sendiri tidak mencalonkan diri menjadi presiden pada pemilu periode berikutnya dan kembali ke Jerman bersama Ainun. Di Jerman mereka berdua hidup lebih tenang dan damai tetapi kedamain itu tidak bertahan lama karena Ainun divonis oleh dokter telah mengidap kanker ovarium stadium akhir dan memaksanya untuk melakukan operasi berkali kali demi kesembuhannya. Pada waktu sakit itulah Habibie dengan setia merawat Ainun dan berharap sembuh seperti sedia kala. Tetapi takdir berkata lain, Ainun menutup mata untuk selama lamanya.
Banyak kisah mengharukan di film ini, diantaranya adalah ketika Habibie sama sekali tidak mempunyai uang untuk pulan ke rumah ketika berada di Jerman dan sedang hujan salju sepatunya bolong dan harus ditambal dengan kertas. Kembalinya sampai di rumah, Ainun tidak tega dan meminta Habibie untuk memulangkannya ke Indonesia agar bisa membantu biaya Habibie selama masih di Jerman.
Selain itu ada adegan dimana ketika Ainun yang sedang sakit parah tetapi masih sempat menuliskan daftar obat yang harus diminum oleh Habibie, karena dialah yang selalu menyiapkan obat untuk Habibie. Masih banyak adegan-adegan haru yang lainnya yang terlalu panjang jika dijelaskan disini.
Setelah 2 minggu Habibie ditinggalkan oleh Ainun ia mencari ibu Ainun di setiap sudut rumahnya yang berada di Jerman tanpa menggunakan alas kaki. Betapa rindunya Habibie kepada Ainun sebuah kisah cinta yang mengharukan.

Curriculum Vitae


Aa an Video/Film Editor Assistant

 In 2007

FTV "CINTA TIGA SISI" Production Alenia Pictures
FTV " ADA VESPA DI ANTARA KITA" Production Alenia Pictures
PSA Ramadhan Bank Indonesia Production SET film
Company profile " Bank Indonesia " Production SET film
Feature film " Pesantren " Production SET film
Company profile " PLN " Production SET film
PSA HUT Bank Indonesia Production SET film

In 2008

Company profil "TANJUNG PINANG" Production SET Film
Company profil "Tanoto Foundation" Production SET Film
TVC Pertamina "Keamanan Gas" Production SET Film
TVC Pertamina "Gas LPG" Production SET Film
PSA "TANJUNG PINANG" Production SET Film
PSA "Tanoto Foundation" Production SET Film

In 2009

Film "GENERASI BIRU" Production SET Film
Film "LIBURAN SERU" Production Alenia Pictures
Film "KING" Production Alenia Pictures

In 2010

Film "JADIIN GUE SIMPANAN" Production Virgo
Film "OBAMA ANAK MENTENG" Production Multivision Plus
Film "TOILET 105" Production Multivision Plus
Film "TANAH AIR BETA" Alenia Pictures

In 2011

Film "SERDADU KUMBANG"  Production Alenia Pictures
Film "RAYA CAHAYA DI ATAS CAHAYA" Production Piclok
Film "REPUBLIK TWITTER" Produktion Rupakata Cinema
FTV "MAU DI BAWA KEMANA" Production E-motion

In 2012

Film "DI TIMUR MATAHARI" Production Alenia Pictures
Film "HABIBI&AINUN" Production MD Pictures
Film "LAURA MARSHA" Production Inno Maleo Pictures

In 2013

Film "LEHER ANGSA" Production Alenia Pictures

In 2014

Film Dokumentery "10 Tahun Tsunami"
Film "NEGERI TANPA TELINGA" Production Lola Amaria Pictures

In 2016
Film "WARKOP DKI Jangkrik Bos" Production FALCON Pictures
_________________________________________________________________________________

As an Video/Film Editor

In 2009
Film documentery "POMATODON"

In 2010
Film documentery "KERUDUNG SANTY"

In 2011
Documentery "RESPEK" Papua
Program TV Documentery DEPSOS ( 3 Episode )

In 2012
Program TV Dokumentery ENSIKLOPIDEA Anak Nusantara ( 6 episode )
Film Dokumentery "HARAPAN DI SEBARNG JEMBATAN"

In 2013
Film Dokumentery  "THE EVOLUTION OF DARWIN'S"
Film Dokumentery "HUT Falentil  Republik Timor Leste"
Program TV  "Program Dokumentery Dinas Pekerjaan Umum"
Program TV  "Program Dokumentery Depnakertrans RI "
Company Profil MARUNDA "

In 2104
Film Dokumentery "SIJI "

In 2015
Film "DEJAVU Ajian Puter Giling" Production BIG Pictures
Film Dokumentery Biografi "SANG PATRIOT POLITIK"
Film "AYAH" Production MD Pictures

In 2016

Film AISYAH "Biarkan Kami Bersaudara" Production Film One 

( Piala Maya Penata Gambar Terpilih 2017 )

Film “ JAKARTA BANGKIT “Production Kaninga Picture & Oreima Film 

( Nominasi Penata Editing Terpuji FFB 2017 )

Film “ SURGA YANG TAK DIRINDUKAN2 “ Production MD Pictures

Film “ PROMISE “ Production Secreenplay Films

 

In 2017

Film " London Love Story 2 " Production Screenplay Films

Film " RAFATHAR " Production Umbara Broter & RNR

Film " NAURA & GENK JUARA " Production KOMPAS Studio

Film " PERTAMA KALI " (Short Movie)

Film " LAUT BERCERITA " (Short Movie) Production Cineria Films & Dian Sastrowardoyo Foundotion

Film " PRAJURIT TANPA BAYANGAN " (Short Movie) Production Dapur Film & BIN

 

In 2018

Film " DOWN SWAN " Production ADX Films

Film Series " CERITA NANDA " Production Palari Film

Film " 27 STEP OF MAY " Production Green Pictures ( Nominasi Penyuting Gambar FFI 2019 )

Film Series " HALUSTIK " Production Kalyana Pictures & VIU

 

In 2019

Film " AMBU " Production Sky Tree Pictures

Film “ JERITAN MALAM “ Production Soraya Film

Film “ RANAH 3 WARNA “ Production MNC Pictures

Film Series “ KNOCK OUT GIRL “ Film Series Production VIU

 

In 2020

Film Series “ KALA SENJA DI JAKARTA “ Production Creativactor

Film Series “ SEMENTARA SELAMANYA “ Production Spasi Moving Image

Film “ WEDDING PROPOSAL “ Production Screenmedia Film

 

In 2021 

Film “ CINTA BETE “ Production Inno Maleo Films

Film “ NOTEBOOK “ Production Screenmedia Film

Film “ THE LOST LETTER “ Production Screenmedia Film

Film Series “ LOVE IS A STORY “ Production Screenmedia Film


_________________________________________________________________________________
Graphic Design

Poster & Design Promo Film KING
Poster & Design Promo Film TANAH AIR BETA
Poster & Design Promo Film SERDADU KUMBANG

Alamat

Phone         : +62-85228410099
Email         : Lsubagyo@gmail.com
                    Lbagyo_setia@yahoo.co.id

Selasa, 04 Februari 2014